SMK Muhammadiyah 1 Ajibarang

Jl. Pandansari 875 - Ajibarang - Banyumas

Unggul dalam Prestasi dan Berakhlak Mulia

SEMINAR BAHAYA NARKOBA DI SMK MUHAMMADIYAH 1 AJIBARANG

Rabu, 25 September 2019 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 80 Kali

SEMINAR BAHAYA NARKOBA DI SMK MUHAMMADIYAH 1 AJIBARANG

Selasa, 24 September 2019

Para pelajar adalah generasi harapan bangsa. Mereka diharapkan tekun belajar dan menjalankan pola hidup sehat, agar tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang berilmu, cerdas, kuat, dan berdaya saing tinggi, untuk menjalani berbagai profesi, menyambut estapet kepemimpinan, dan menyongsong masa depan yang gemillang dalam berbagai bidang kehidupan. 
 

Untuk memenuhi harapan tersebut, para orang tua, di desa dan di kota, yang kaya dan yang miskin, rela mengorbankan harta benda demi mendukung pendidikan mereka; para pendidik bekerja keras dengan penuh dedikasi untuk membangun karakter mereka dan membekali mereka dengan ilmu pengetahuan dan ketrampilan; dan pemerintah terus membuat kebijakan-kebijakan pembangunan bidang pendidikan dan mengembangkan program-program pendidikan yang relevan dan bermutu, untuk menghantarkan para pelajar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Megiringi para orang tua, guru-guru dan pemerintah, tokoh agama dan tokoh masyarakat terus aktif memberikan pertimbangan- pertimbangan, pengawasan, dan dukungan terhadap berbagai kebijakan atau program pendidikan.

Tetapi kenyataan tidak selalu sejalan dengan keinginan. Banyak pelajar yang malas belajar dan terlibat dalam berbagai kasus penyalahgunaan Narkoba, baik sebagai pengguna maupun pengedar. Banyak diantara mereka yang tidak hanya mengorbankan pendidikan, tetapi juga harus merelakan masa depan mereka ditelan zaman, karena menjadi pecandu acute yang mengalami kerusakan fisik, mental, dan kejiwaan yang sulit disembuhkan. Mereka tidak hanya mengecewakan diri sendiri, tetapi juga mengecewakan orang-orang yang mencintai mereka, terutama orang tua, saudara-saudara dan guru-guru mereka. Mereka juga mengecewakan nusa, bangsa, dan agama, karena keberadaan mereka menjadi   beban   dan   membawa   pengaruh   negatif   terhadap   situasi   kehidupan   masyarakat.

Peran Sekolah

Masalah penyalahgunaan Narkoba, khususnya di kalangan pelajar, pada dasarnya adalah juga masalah di sekolah-sekolah kita dan masalah kita semua oleh karenanya SMK Muhammadiyah 1 Ajibarang bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional Kabupaten Banyumas melaksanakan seminar mengenai bahaya NARKOBA dan uji sampling kepada siswa dan siswi sekolah kami demi pencegahan peredaran narkoba diwilayah Banyumas khususnya Ajibarang. Merebaknya masalah ini dan banyaknya siswa SD, SMP, dan SMA yang terlibat dalam penyalahgunaan Narkoba, adalah salah satu indikator belum maksimalnya peran sekolah  dalam pembinaan peserta didik.

   

Selain di lingkungan keluarga, peserta didik banyak menghabiskan waktu di lingkungan sekolah. Sikap, perilaku, dan kebiasaan mereka banyak ditentukan oleh pengalaman yang mereka peroleh di sekolah. Jika sekolah dapat menjalankan fungsi edukasinya dengan baik, tentu mereka tidak mudah terseret ke dalam lumpur Narkoba. Setiap hari peserta didik menghabiskan waktu sekitar 6 (enam) jam, dari pukul 07.00 hingga pukul 13.00, di lingkungan sekolah. Bahkan untuk sekolah tertentu yang menerapkan pola full day school, para peserta didik menghabiskan waktu hingga 9 (sembilan) jam sehari, dari pukul 07.00 hingga pukul 16.00, di lingkungan sekolah. Jika dalam rentang waktu tersebut pihak sekolah mampu secara efektif melakukan pembinaan, tentu para pelajar akan dapat terhindar dari masalah penyalahgunaan Narkoba.

 

Sekolah perlu mengambil peran lebih aktif dalam mencegah penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar. Peran tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, antara lain sebagai berkut:

Sekolah dapat berperan sebagai Counseling Agency, dengan memaksimalkan peran guru-guru Bimbingan dan Konseling (BK) dan mengembangkan berbagai bentuk program pelatihan, dengan target yang terukur dan tahapan yang realistis, misalnya:

a. Memberi Informasi dan Pemahaman

Ketidaktahuan dan ketidakpahaman dapat menjadi penyebab terjadinya penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar. Pengetahuan dan pemahaman adalah fondasi awal bagi perkembangan sikap dan cara berfikir seseorang. Karena itu langkah awal yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk mencegah penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar adalah dengan mengembangkan program-program pembinaan yang dapat membantu para pelajar mengetahui dan memahami berbagai aspek yang terkait dengan keberadaan, pengedaran, penggunaan, jenis, dampak, dan kosekweni dari penyalahgunaan Narkoba. Para pelajar juga perlu diberi pengetahuan dan pemahaman bahwa Narkoba tidak hanya membahayakan kesehatan fisik dan emosi, tetapi juga dapat menghambat aktivitas studi dan menurunkan prestasi. Jika didukung oleh materi yang relevan dan metode yang menarik, para pelajar akan dapat dengan cepat dan mudah mengetahui dan memahami berbagai aspek yang terkait dengan penyalahgunaan Narkoba.


b.   Menanamkan Kesadaran

Pengetahuan dan pemahaman saja tentu tidak cukup. Para pelajar perlu diberi kesadaran untuk berfikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan pengetahuan dan pemahaman mereka. Mengetahui dan memahami berbagai bentuk dan resiko penyalahgunaan Narkoba tidak serta merta membuat para pelajar menghindarinya. Pengetahuan dan pemahaman mereka perlu diperkuat dengan kesadaran yang tinggi. Sekolah dapat mengembangkan program-program pembinaan yang dapat menumbuhkan kesadaran para pelajar untuk tidak mencoba-coba menggunakan Narkoba. Dengan pendekatan dan strategi yang tepat, serta didukung oleh tenaga pendidik yang berkompeten, tentu tidaklah sulit bagi sekolah untuk membangun kesadaran para pelajar untuk menjauhi Narkoba.

c. Menumbuhkan Sikap Kritis

Pengetahuan, pemahaman dan kesadaran dapat dikalahkan oleh berbagai taktik dan godaan. Para pengedar dan pengguna Narkoba tentu terus mengembangkan berbagai taktik dan godaan untuk menjerat para pelajar ke dalam perangkap Narkoba. Untuk tidak mudah terjerat dan terperangkap, para pelajar perlu memiliki sikap kritis. Mereka harus dilatih untuk senantiasa bersikap kritis terhadap berbagai taktik dan godaan yang digunakan oleh para pengedar dan pengguna Narkoba untuk menjerat mereka melalui berbagai cara dan media. Karena itu sekolah perlu mengembangkan program-program pembinaan sikap dan karakter yang dapat menumbuhkembangkan sikap kritis di kalangan pelajar.

d. Membangun Kemandirian

Pengetahuan, pemahaman, kesadaran, dan sikap kritis masih gampang dijebol jika para pelajar  tidak  memiliki  sikap  mandiri  (independensi).  Sekolah dapat  mengembangkan program-program pembinaan agar para pelajar mampu dan berani mengambil sikap, membuat keputusan, dan bertindak sendiri, tanpa menunggu orang lain.

Participatory Agency

Mengingat dampaknya yang begitu destruktif, penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar harus dilihat sebagai masalah kolektif dan dihadapi secara kolektif pula, dengan melibatkan semua pihak yang terkait langsung atau tidak langsung dengan institusi sekolah, termasuk pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas lokal. Dalam konteks ini maka sekolah, khususnya guru BK, dapat menjadi fasilitator untuk mendorong partisipasi aktif semua pihak dalam mencegah penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar. Pihak sekolah dapat, misalnya, memfasilitasi para orang tua, tokoh agama (toga), tokoh masyarakat (tomas), tokoh pendidikan (topen), dan tokoh pemerintahan (topem) untuk berpartisipasi aktif dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar sesuai kompetensi dan kapasitas masing-masing.

   

Secara khusus pihak sekolah perlu mendorong partisipasi para orang tua, karena sekolah memiliki akses langsung kepada para orang tua, dan sikap orangtua memainkan peran yang sangat menentukan dalam membentuk pemahaman, kesadaran, dan sikap anak-anak terhadap berbagai masalah kehidupan, termasuk masalah Narkoba.

Partisipasi  berbagai  pihak  dalam  pencegahan dan penanganan  masalah penyalahgunaan Narkoba bisa dilakukan dalam bentuk inisiatif sendiri, dapat pula dilakukan dalam rangka mendukung program-program pencegahan dan penanganan yang sudah direncanakan dan dilaksanakan oleh pihak-pihak tertentu, seperti Kepolisian dan BNN.

 

 

Peredaran dan penggunaan Narkoba bisa disebabkan oleh tindakan iseng tanpa tujuan, tetapi bisa juga dipicu oleh tujuan-tujuan ekonomi dan atau tujuan-tujuan ideologis. Tetapi apapun yang melarbelakanginya, penyalahgunaan Narkoba berdampak sangat destruktif terhadap kehidupan dan masa depan para pelajar. Sebagai lembaga pendidikan yang mendapat kepercayaan dari orang tua dan pemerintah, pihak sekolah tidak boleh berpangku tangan atau menjadi penonton dalam berbagai upaya memberantas penyalahgunaan Narkoba. Pihak sekolah dituntut untuk terus berperan aktif dengan mengambil inisiatif dan mengembangkan langkah-langkah edukatif, konsultatif, dan kooperatif untuk membentengi para pelajar dari pengaruh para pengedar dan pengguna Narkoba.

Sesuai dengan tugas dan fungsi mereka, guru-guru BK yang ada di sekolah-sekolah dapat menjadi leading sector dalam mengembangkan upaya-upaya pencegahan dan penanganan masalah- masalah yang  terkait  dengan  penyalahgunaan  Narkoba  di  kalangan  pelajar.  Agar  mereka  dapat menjalankan fungsi tersebut dengan baik, guru-guru BK perlu secara periodik dilatih dan dilibatkan dalam berbagai program penanganan masalah penyalahgunaan Narkoba. Mereka harus diberi akses pada informasi dan perkembangan terbaru tentang penyalahgunaan Narkoba, agar pengetahuan dan wawasan mereka tentang masalah Narkoba selalu relevan dan up to date. Agar guru-guru BK dapat menjalankan tugas dan fungsi mereka secara sinergis, maka perlu dibentuk wadah bersama yang memungkinkan mereka terus berbagi informasi, saling membantu, dan bekerjasama.

Mengingat bahaya penyalahgunaan Narkoba terus mengintai para pelajar kita, maka program-program yang terkait dengan bahaya Narkoba harus built in dalam semua kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler. Misalnya, tema-tema pembinaan tentang bahaya Narkoba dapat diintegrasikan dengan pendidikan agama, pendidikan karakter, pendidikan olahraga, dan pendidikan budi pekerti. Tema-tema tersebut juga harus menjadi salah satu menu utama dalam pidato-pidato atau arahan para kepala sekolah dan wakil-wakil mereka di hadapan para pelajar.  Jika di sekolah terdapat buletin atau majalah dinding, atau bentuk-bentuk publikasi lainnya, maka tema-tema pembinaan tentang bahaya Narkoba harus menjadi salah satu menu wajib di dalamnya.

Untuk  memberikan  efek  jera,  pihak  sekolah  perlu secara  periodik  melakukan  test  urine terhadap para guru dan pelajar melalui kerjasama dengan pihak-pihak berwewenang. Jika ditemukan kasus penggunaan Narkoba secara tidak wajar, maka pihak sekolah perlu mengambil tindakan tegas.

Untuk mendukung kebijakan kepala sekolah dan program-program yang dibuat oleh guru- guru, khususnya guru-guru BK, para petugas keamanan dan tenaga kependidikan di sekolah juga harus dibekali dengan informasi dan pengetahuan yang memadai tentang Narkoba, agar mereka dapat menjalankan fungsi-fungsi pengawasan dan pengamanan dengan baik.

Dengan adanya hal ini kami dari pihak SMK Muhammadiyah 1 Ajibarang berterimakasih kepada pihak Puskesamas Ajibarang dan BNNK kabupaten Banyumas dalam rangka pencegahan beredarnya Nakoba dilingkungan sekolah. Alhamdulillah dari sampling 40 siswa dan siswi kami yang duji urine oleh BNNK kabupaten Banyumas semuanya negatif tidak ada yang menggunakan narkoba.( sw/25/9/2019 )

Sumber berita dari penulis Prof. H.M. Sirozi, MA., Ph.D dan dipublikasikan kembali oleh    tim Humas Dudi SMK Muhammadiyah 1 Ajibarang

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Bambang Wibowo, S.Pd.

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas karunia dan hidayah-Nya, sehingga kita semua dapat membaktikan segala hal yang kita…

Selengkapnya

KATEGORI

TAUTAN

JAJAK PENDAPAT

Menurutmu bagaimana tampilan dari website sekolah ini ?

LIHAT HASIL