Pendidikan karakter yang menekankan pada berbagai dimensi dalam proses pembentukan pribadi, diharapkan mampu membendung berbagai kemungkinan-kemungkinan negatif yang secara perlahan akan menghilangkan budaya bangasa ini. Sehingga diharapkan permasalahan yang timbul dari pergeseran etika dan moral yang dilakukan oleh para generasi muda akan semakin menurun atau bahkan menghilang.

Melihat sangat pentingnya penerapan pendidikan karakter, maka pendidikan karakter begitu gencar menjadi sorotan di berbagai kalangan negeri ini. Bahkan Nadiem Makarim, selaku Mendikbud lebih mengutamakan pendidikan karakter. Hal itu dianggap penting, karena kemajuan bangsa salah satu faktor yang menentukannya adalah bagaimana karakter dari manusia yang keluar dari sistem pendidikan di Indonesia.

Hal itu menunjukkan bahwa semua kalangan berharap generasi muda di masa depan bukan hanya seseorang yang luar biasa secara pengetahuan dan ketrampilan saja, tetapi juga seseorang yang menyadari nilai luhurnya sebagai manusia yang diharuskan memiliki tutur kata, sikap, dan perilaku yang sesuai dengan etika dan moral yang berlaku baik dilingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.

Melalui pendidikan karakter diharapkan para generasi muda mampu memiliki pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian, tanggung jawab, kebenarian, keindahan, kebaikan, dan keimanan. Bahkan dalam dunia pendidikan dikenal 18 nilai karakter yang diharapkan dimilki oleh peserta didik. Hal itu meliputi religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Dengan penjelasan yang telah dijabarkan sebelumnya, maka terlebih dahulu harus kita ketahui tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Menurut Pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan. Hal itu diharapkan, bahwa pendidikan bukan hanya mampu membentuk insan bangsa yang cerdas, tetapi juga membentuk karakter generasi masa depan yang luar biasa, yang tumbuh dan berkembang dengan karakter nilai luhur bangsa dan agama.

Namun, sering kita jumpai bahwa penerapan pendidikan karakter dan penanaman nilai-nilai karakter di dalamnya,  baik di sekolah-sekolah ataupun di lembaga-lembaga pendidikan lain tidak berjalan efektif. Hal itu dikarenakan para peserta didik tidak menemukan sosok teladan yang patut untuk dicontoh. Akibatnya, para peserta didik memiliki pandangan bahwa pendidikan karakter di zaman ini hanya sekedar wacana dan tidak perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dan mereka merasa dibohongi jika hanya mendengarkan materi tentang karakter baik, kejujuran, dan patriotisme. Mereka hanya meyakini paham baru yang disebabkan adanya globalisasi di segala bidang yang justru bertolak belakang dengan nilai-nilai moral pancasila.

Ada dua hal yang dibahasa dalam tema pendidikan karakter, hal itu adalah pendidikan dan karakter.

  1. Pendidikan

Beberapa ahli telah menjelaskan tentang pengertian pendidikan, seperti pengertian pendidikan menurut Driyarkara, “Upaya memanusiakan manusia muda”. Hal ini karena pada hakekatnya, bahwa manusia tidak akan pernah puas terhadap pendidikan yang dia dapatkan, dengan harapan melalui pendidikan itu manusia akan menjadi sempurna.

Bukan hanya Driyarkara saja yang menjabarkan pandangannya tentang pendidikan, bahkan Ki Hajar Dewantara selaku Bapak Pendidikan Indonesia juga menjabarkan pandangannya. Menurut beliau, “Pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat menunjukkan kesempurnaan hidup anak-anak kita”. Pendidikan (dalam arti yang luas) adalah upaya mengembangkan potensi menjadi prestasi melalui pemberian fokus stimulasi untuk memiliki kompetensi dan reputasi.

Oleh karena itu, maka perlu kita ketahui makna dari isi pendidikan itu sendiri, yaitu:

  1. Memberi pengetahuan
  2. Membentuk ketrampilan
  3. Membentuk sikap
  4. Mewujudkan tuntutan hidup pribadi dan sosial
  5. Sarana persiapan kehidupan yang akan datang
  6. Memenuhi kebutuhan perkembnagan anak.

Setelah mengetahui makna pendidikan, maka kita juga harus mengetahui fungsi pendidikan. Secara umum, fungsi pendidikan meliputi:

  1. Sebagai pengembangan pribadi
  2. Sebagai pengembangan warga negara
  3. Sebagai pengembangan kebudayaan
  4. Sebagai pengembangan bangsa

Selain fungsi pendidikan secara umum, ada juga fungsi pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003, “Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa.

  1. Karakter

Dalam Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, karakter diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorag.

Sehingga karakter yang baik akan menjadi cerminan kepribadian secara utuh dari seseorang sebagai orang baik (mentalitas, sikap, dan prilaku), terlepas dari apakah kebaikan itu asli atau hanya sekedar kepura-puraan.

Melalui pendidikan berbasis karakter seseorang akan menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang sadar diri sebagai makhluk sosial, yang pasti akan berinteraksi dengan makhluk yang lain. Kesadaran akan pentingnya nilai karakter diri yang ada pada dirinya  dijadikan tolak ukur martabatnya, sehingga terciptalah pikiran obyektf, terbuka, dan kritis, serta dia akan memiliki harga diri yang tidak mudah luntur.

Berbagai fonomena sosial yang muncul tentang menurunnya karakter luhur para remaja. Bahkan dunia pendidikan lebih banyak melahirkan orang-orang pintar dan penuh ketrampilan, namun jarang yang memiliki sikap dan prilaku yang baik. Maka menimbulkan pemikiran tentang program yang sesuai untuk meningkatkan nilai karakter diri para peserta didik.Oleh karena itu, maka perlu adanya penanaman pendidikan karakter yang harus diterapkan di dunia pendidikan.

Berikut adalah upaya untuk menerapkan pendidikan berbasis karakter di sekolah:

  1. Memiliki nilai-nilai yang dianut dan disampaikan kepada seluruh pemegang kebijakan sekolah melalui berbagai media.
  2. Pengajar, tenaga kependidikan, dan semua civitas sekolah termasuk tenaga kebersihan dan keamanan mendiskusikan nilai-nilai yang karakter sekolah sebagai nilai yang benar.
  3. Pengajar dan peserta didik menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter yang dianut di kelas masing-masing.
  4. Memberikan dilema-dilema dalam mengerjakan suatu nilai, misalnya tentang kejujuran.
  5. Pembiasaan penerapan nilai di setiap kesempatan.
  6. Semua warga sekolah harus mendiskusikan masalah yang terjadi apabila ada pelanggaran dengan sebijak mungkin.
  7. Menjalin hubungan yang baik antara pihak sekolah dan wali murid.

 

Dari beberapa uraian di atas, maka manfaat pendidikan karakter sangat banyak dan besar bagi kehidupan bangsa dan negara karena perannya sangat penting dalam pembentukan karakter warga negara berdasarkan nilai-nilai etika dan budaya bangsa. Agar para generasi muda tidak lupa jati dirinya sebagai warga negara yang baik. Sehingga, dapat dijabarkan bahwa pendidikan karakter memiliki berbagai manfaat sebagai berikut:

  1. Pendidikan karakter menjadikan individu yang maju, mandiri, dan kokoh dalam menggenggam prinsip.
  2. Pendidikan karakter akan menjadi benteng dalam memerangi berbagai perilaku berbahaya dan gelap.
  3. Pendidikan karakter sebagai mempromosikan sikap prososial/nilai.
  4. Pendidikan karakter mendorong nilai intelektual/akademik
  5. Pendidikan karakter sebagai mempromosikan pengembangan pribadi holistik. Meliputi, karir kejujuran perencanaan dan komitmen, pengembangan kepemimpinan, pertumbuhan rohani mentoring dan peran permodelan, petualangan bertanya dan pembangunan iman.
  6. Pendidikan karakter sebagai pendorong tanggung jawab bagi warga negara, meliputi: layanan dan kesukarelaan, politik tindakan, keberlanjutan dan keterlibatan waraga negara.

Banayak sekali program yang ditemukan untuk meningkatkan nilai karakter diri para peserta didik, salah satu program yang bisa diterapkan untuk menanamkan pendidikan karakter para peserta didik adalah membiasakan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun). Program ini merupakan kegiatan yang sederhana, namun memiliki peranan dalam pembentukan karakter peserta didik.

Untuk lebih jelasnya dapat kita uraikan tentang budaya 5S ini terdiri dari:

  1. Senyum

Senyum adalah gerak tawa tanpa suara yang tercermin pada bibir yang mengembang sedikit.

Sering kita dengar bahwa senyum merupakan ibadah. Hal itu mungkin benar, karena saat kita tersenyum berarti kita dalam keadaan bahagia, maka secara tidak langsung kita sudah menyebarkan kebahagian dan aura positif kepada orang lain.

Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya sebelum melakukan kegiatan apapun kita awali dengan senyuman. Senyuman yang tulus menjadikan hubungan masing-masing individu menjadi lebih menyenangkan.

  1. Salam

Salam, adalah pernyataan hormat, selamat, sejahtera, damai, tentram. Yang digunakan untuk mengkomunikasikan rasa hormat kita atas kehadiran orang lain, sebagai bentuk rasa perhatian kita kepada orang tersebut.

 Salam yang kita lakukan dengan penuh ketulusan, maka akan mampu mencairkan suasana kaku yang ada di sekitar kita. Salam dalam hal ini bukan hanya berarti berjabat tangan saja, namun seperti mengucapkan salam menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Mengucapkan salam dan menjawab salam adalah salah satu amalan sholeh yang telah diajarkan. Hal itu memberi gambaran, bahwa kita telah menyapa dan mengajak orang lain bercakap-cakap. Dan tanpa kita sadari sebenarnya kita telah menunjukkan perhatian kita terhadap orang yang kita tegur dengan salam. Hal itu akan mempererat persaudaraan.

  1. Sapa

Sapa secara sederhana memiliki makna kata-kata untuk menegur. Maka, tegur sapa yang dilakukan dengan ramah yang kita ucapkan, membuat suasana menjadi akrab dan hangat.

Saat kita menayapa seseorang, maka berarti kita menunjukkan perhatian, respon, dan simpati kita terhadap orang itu. Sehingga akan muncul rasa dihargai bagi orang yang sedang kita sapa. Hal itu, akan menjadikan kepercayaan diri orang yang kita sapa tadi semakin meningkat.

  1. Sopan

Sopan adalah rasa hormat, takzim, dan tertib menurut adab yang kita lakukan kepada orag lain.

Sopan yang bisa kita lakukan adalah rasa hormat kita baik saat bicara, berjalan di depan orang yang lebih tua, atau bahkan saat kita berinteraksi dengan orang lain. Bukan hanya itu saja, sopan dalam berpakaian juga merupakan hal yang penting.

Hal itu akan menumbuhkan rasa saling menghormati satu sama lain. Seseorang yang berkarakter dan memiliki etika adalah seseorang yang mampu berlaku sopan baik ucapan maupun perbuatan dimanapun dan kapanpun.

  1. Santun

Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, santun memiliki pengertian sangat sopan, lemah lembut berbudi bahasa, penuh rasa belas kasihan, suka menolong, berakhlak mulia.

Selain itu, santun juga memiliki makna tentang bagaimana kita mampu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri.

Dengan cara gerak tindakan dan ucapan yang santun kita akan membuat orang lain merasa dihargai.

Tingkah laku yang halus, rasa belas kasih, dan suka menolong merupakan hal yang timbul karena terbiasa bertingkah santun kepada orang lain.

Lima “S” yag diharapkan menjadi budaya karakter, mampu menumbuhkan nilai karakter yang memang diharapkan ada dalam setiap proses pembelajaran di sekolah. Adapun karakter-karakter itu adalah toleransi, komunikatif, cinta damai, dan peduli sosial.

Budaya lima “S” mampu membuat peserta didik menghargai orang lain tanpa memperdulikan perbedaan agama, suku, dan etnis yang berbeda dari dirinya. Hal ini menunjukkan adanya karakter toleransi dalam program ini.

Bukan hanya itu saja, melalui salam, sapa, sopan, dan santun peserta didik mampu menumbuhkan rasa senang bergaul, berbicara, dan bekerja sama dengan orang lain yang merupakan bentuk karakter bersahabat dan berkomunikasi.

Selain toleransi dan bersahabat, lima “S” juga mampu menumbuhkan rasa senang dan rasa aman atas kehadiran satu sama lain, yang merupakan perwujudan sikap cinta damai.

Melalui lima “S”, akan tumbuh kepedulian sosial, yaitu rasa ingin selalu membantu orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Hal itu merupakan hasil yang terbentuk dari sikap sopan santun yang tertanam dalam program ini.

Suatu program yang ditujukan untuk menanamkan karakter baik kepada peserta didik, tidak akan berjalan dengan sempurna jika tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah tersebut tidak ikut serta dalam program tersebut.

Oleh karena itu, sebelum menerapkan program Lima “S” tersebut kepada peserta didik. Maka para pendidik dan tenaga kependidikan harus memberikan contoh dan mempraktekan terlebih dulu. Dengan cara ini diharapkan mampu memotivasi peserta didik untuk mencontohnya. Selain itu, program ini juga membutuhkan sosialisasi agar semua warga sekolah mampu memahami program ini. Hal ini dilakukan agar cita-cita sekolah membentuk peserta didik yang berkarakter tidak hanya sebagai wacana.

Adapun hal yang bisa menunjukkan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah merupakan teladan bagi peserta didik dalam membudayakan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) adalah sebagai beriku:

  1. Pendidik dalam hal ini adalah guru, setiap pagi menyambut peserta didik di depan gerbang sekolah dengan penuh keramahan. Kemudian menyapanya dengan sopan, sedangkan peserta didik dengan sopan santun mengucapkan salam kepada gurunya dan mencium punggung tangan gurunya. Hal itu akan memunculkan energi positif yang akan terbawa sampai proses pembelajaran berakhir.
  2. Pendidik yang masuk ke kelas selalu mengucapkan salam, menyapa dengan sopan dan santun kepada peserta didik.
  3. Apabila dalam proses pembelajaran, peserta didik melakukan kekeliruan. Maka pendidik akan menasehati dengan ramah, sopan, dan santun.
  4. Saat berada di sekolah semua pendidik dan tenaga kependidikan harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan berucap, bahkan menanamkan pada dirinya bahwa dialah teladan bagi peserta didik.
  5. Antara pendidik dan semua civitas sekolah harus selalu menerapkan budaya lima “S” di setiap kali bertemu. Maka akan bisa dirasakan suasana kerja yang memyenangkan.
  6. Peserta didik yang berada di sekolah selalu dengan sadar mematuhi budaya 5S dengan menggunakan kata-kata yang sopan saat bertanya dan berbicara kepada semua civitas sekolah.
  7. Antar peserta didik juga harus ikut membangun budaya 5S satu sama lain, agar dapat dirasakan rasa toleransi, cinta damai, dan meningkatkan rasa peduli sosial diantara mereka.

Demikianlah hal-hal yang dapat dilakukan di sekolah antara semua civitas sekolah dan peserta didik untuk membudayakan budaya 5S (SenyuM, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun). Akan tetapi, meskipun budaya 5S telah diterapkan di sekolah, akan lebih optimal jika penanaman karakter peserta didik melalui pendidikan berbasis karakter khususnya dengan membudayakan program 5S, melibatkan semua pihak yang terkait seperti orang tua, maupun masyarakat yang turut berpartisipasi untuk membantu dan mendukung program 5S ini, sehingga karakter peserta didik dapat diarahkan ke arah yang lebih baik.

Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan orang tua dan masyarakat sekitar untuk ikut membudayakan pendidikan karakter melalui buadaya 5S ini.

Adapun, hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang tua dan masyarakat sekitar dalam menerapkan budaya 5S adalah sebagai berikut:

  1. Orang tua setiap memberi nasehat kepada anaknya, maka harus menggunakan tutur kata yang sopan dan santun, agar menciptakan rasa saling menghormati antara orang tua dan anak.
  2. Saat akan keluar rumah, anak harus membiasakan minta izin dan mengucapkan salam.
  3. Bukan hanya anak saja yang harus mengucapkan salam saat ingin keluar rumah, tetapi orang tua juga harus melakukan hal yang sama sebagai bentuk contoh bagi anak. Bukan hanya itu saja, orang tua harus menanamkan pada dirinya bahwa dialah orang yang akan dicontoh oleh anaknya baik ucapan, sikap, dan prilaku.
  4. Antar warga yang saling bertemu harus saling mengucapkan salam, kemudian menyapa dengan sopan dan santun.
  5. Anak harus dibiasakan mengucapkan kata-kata yang sopan dan santun saat berbicara dengan orang yang lebih tua.

Mungkin semua hal yang telah dijabarkan di atas hanya sedikit langkah yang dapat menanamkan pendidikan karakter melalui budaya lima “S” baik di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.

Jika ditanya, apakah budaya karakter ini penting untuk masa depan peserta didik, maka jawabnya adalah sangat penting. Di masa mendatang, untuk mewujudkan cita-cita mereka, mereka akan bertemu dengan banyak orang. Maka saat itulah, pendidikan karakter akan menunjukkan hasilnya sebagai budaya yang membangun karakter diri mereka. Karena karakter seseorang, baik atau buruk tidak akan serta merta terbentuk dengan begitu saja, tetapi karena adanya pembiasaan selama ini. Pendidikan karakter itulah yang nantinya akan membantu mereka dalam menjalani hidupnya dan mencapai kesuksesannya.

 

 

Sumber Refrensi:

 

Anisa, Nurul. 2017 “Modal Pembentukan Karakter melalui Budaya 5S Senyum, Salam, Sapa, sopan, dan santun”. (http://anisanurul2728.wordpress.com/2017/06/14/modal-pembentukan-karakter-melalui-budaya-5S-senyum-salam-sapasopan-dan-santun/). Diakses pada Minggu, 22 Maret 2020 jam 10.24 WIB.

 

Ihsan, A. 2010 “9 Pilar Pendidikan Holistik Berbasis Karakter”. (http://sdncb11.wordpress.com/2010/08/03/9-pilar-pendidikan-holistik-berbasis-karakter/). Diakses pada Minggu, 20 Maret 2011 jam 09.45 WIB.

 

Wahyuni, I. 2011 “Pendidikan”. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan). Diakses pada Minggu, 20 Maret 2011 jam 09.52 WIB.

 

Wahyuni, I. 2011 “Karakter”. (http://id.wikipedia.org/wiki/Karakter). Diakses pada Minggu, 20 Maret 2011 jam 09.55 WIB.

 

“Jadi Mendikbud, Nadiem Makarim Utamakan Pendidikan Karakter”, Gatra.com. 23 Oktober 2019. 27 Maret 2020. https://www.gatra.com/detail/news/452673/milenial/jadi-mendikbud-nadiem-makarim-utamakan-pendidikan-karakter.

 

Maulidya, Novia, dkk. 2013. Kamus Bahasa Indonesia Lengkap. Surabaya: CV Cahaya Agency.

 

Susilowati, N.E. 2010. Implementasi Pendidikan Karakter Pada Bidang Bahasa Indonesia. Malang: PPs UM.